<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ngirim; Dibuang Sayang</title>
	<atom:link href="http://ngirim.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ngirim.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Feb 2009 06:21:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ngirim.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ngirim; Dibuang Sayang</title>
		<link>http://ngirim.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ngirim.wordpress.com/osd.xml" title="Ngirim; Dibuang Sayang" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ngirim.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Komputasi Berjamaah untuk Beras Melimpah</title>
		<link>http://ngirim.wordpress.com/2008/09/18/komputasi-berjamaah-untuk-beras-melimpah/</link>
		<comments>http://ngirim.wordpress.com/2008/09/18/komputasi-berjamaah-untuk-beras-melimpah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 14:26:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[beras]]></category>
		<category><![CDATA[grid computing]]></category>
		<category><![CDATA[komputer]]></category>
		<category><![CDATA[protein]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp27/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[Komputer dan beras, sepintas, jauh sekali hubungannya. Tapi, proyek Nutritious Rice for the World (NRftW), membuat hubungan itu jelas terlihat. Proyek yang diluncurkan 15 Mei 2008 ini, melibatkan World Community Grid (WCG) &#8211; IBM dan Computational Biology Research Group (CBRG) &#8211; University of Washington. Kepentingannya adalah untuk kemanusiaan. ‘Humanitarian research’ ini dilatarbelakangi oleh fenomena kelaparan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngirim.wordpress.com&amp;blog=6077192&amp;post=99&amp;subd=ngirim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Komputer dan beras, sepintas, jauh sekali hubungannya. Tapi, proyek Nutritious Rice for the World (NRftW), membuat hubungan itu jelas terlihat. Proyek yang diluncurkan 15 Mei 2008 ini, melibatkan World Community Grid (WCG) &#8211; IBM dan Computational Biology Research Group (CBRG) &#8211; University of Washington.<span id="more-99"></span></p>
<p>Kepentingannya adalah untuk kemanusiaan. ‘Humanitarian research’ ini dilatarbelakangi oleh fenomena kelaparan dan malnutrisi, pengancam utama kesehatan secara global. Statistik menyebut bahwa penderita berbagai bentuk malnutrisi, mencacah hampir 30 persen penduduk dunia. Bahkan setiap tahun, 10 juta orang meninggal karena kelaparan dan penyakit terkait lainnya. Ternyata, jumlah itu melebihi angka kematian karena AIDS, TBC, dan malaria.<br />
Dalam konteks ini, produksi beras memegang peran strategis. Sebab beras ialah makanan pokok bagi lebih dari setengah penduduk bumi. Singkatnya, ketersediaan beras kaya nutrisi dan melimpah, menjadi kebutuhan tak terelakkan.</p>
<p>Nutritious Rice for the World, secara garis besar, berambisi untuk memprediksi struktur protein padi. Sehingga protein-protein itu—lengkap dengan fungsinya—dapat terpetakan secara komprehensif. Hasil akhir proyek ini diharapkan akan menjadi masukan utama bagi ahli pertanian.</p>
<p>Tak lain ini agar mempermudah proses penyilangan dan membantu usaha untuk melahirkan benih padi unggulan. Target konkritnya ialah lahirnya benih padi superhibrid yang lebih tahan penyakit, tahan terhadap perubahan iklim, lebih kaya kandungan nutrisi, dan dapat dipanen dalam jumlah yang jauh lebih besar.<br />
Sejak mempercepat tuntasnya pemetaan genom manusia (human genome), komputer seakan kian menyatu dengan penelitian biologi dan kimia. Tugas-tugas manual konvensional bisa diselesaikan jauh lebih cepat. Komputer yang digunakan cenderung tergolong “raksasa”, sesuai tugasnya.</p>
<p>Dalam proyek seperti NRftW – WCG ini, prinsipnya sangat membumi: gotong-royong. Jadi, alih-alih membuat komputer “raksasa” dari nol, komputer yang ‘sendirian’ diminta “berjamaah”. Maksudnya, menggalang sumberdaya komputasi dari komputer di seluruh dunia, dengan bantuan internet. Konsep tadi, dalam definisi yang lebih lengkap, diistilahkan sebagai grid computing.<br />
Prediksi struktur protein dikenal kompleks dan mahal. Untuk prediksi struktur protein padi ini, dengan eksperimen laboratorium secara tradisional, menurut Dr. Ram Samudrala (peneliti utama CBRG), diperkirakan butuh waktu 200 tahun. Karena struktur protein yang harus dipelajari membilang 30.000 sampai 60.000. Melibatkan komputer, dengan proyek NRftW, waktu dua abad itu dapat “dihemat” menjadi tak lebih dari dua tahun.</p>
<p>Ini juga berarti bahwa prediksi struktur protein memang butuh sumberdaya komputasi yang handal dan memadai. Satu komputer saja tidak mungkin cukup. Kalaupun terpaksa disebut cukup, prosesnya akan memakan waktu sangat lama, sebelum mendapat hasil yang diharapkan.</p>
<p>Untuk NRftW ini saja, secara “normal” dibutuhkan waktu 30 tahun. Padahal, ukuran “normal” tadi, asumsinya sudah memanfaatkan fasilitas komputer di CBRG sendiri yang tergolong raksasa, yakni: kluster komputer dengan 320 CPU, memori RAM 173 GB, dan hard disk 35 TB.</p>
<p>WCG yang setara dengan superkomputer nomor 3 di dunia, mempercepat semuanya. Sebagai awalan, sebanyak lebih dari 10.000 gen akan ditelaah, dengan menghasilkan 100.000 model per gen. Waktu yang dihabiskan bukan lagi tiga dasawarsa, tapi cukup menjadi sekitar satu tahun saja. Jelas jauh lebih singkat.</p>
<p>Prediksi struktur proteinnya sendiri, menggunakan program Protinfo dari CBRG. Protinfo ini termasuk yang terbaik dalam kompetisi algoritma dan pemorgraman Critical Assessment of Structure Prediction (CASP) sejak tahun 1994.</p>
<p>Siapapun warga dunia, dapat ikut berpartisipasi. Cukup dengan “menyumbang” komputer rumahan/kantoran yang dimiliki. Syarat utamanya hanya satu: terhubung ke jaringan internet. Selanjutnya, tinggal mendaftar sebagai anggota, lalu mengunduh dan menginstall software yang diperlukan. Kemudian, dengan sedikit langkah tambahan, dapat segera menjadi bagian dari proyek kemanusiaan ini.</p>
<p>WCG mempersyaratkan spesifikasi komputer minimum: memori RAM 128 MB, hard disk 200 MB (50 MB free), koneksi internet berkecepatan minimum 28kbps. Sistem operasinya bisa dengan Windows 98, ME, 2000, XP, Vista, Linux, atau OS/X.</p>
<p>Instalasi BOINC Client, software untuk grid computingnya itu, sangat mudah. Bagi pengguna Windows, setelah mengunduh BOINC (berukuran 9.1 MB), lalu buka untuk memulai proses instalasi. Berikutnya, cukup mengikuti tombol Accept pada license agreement, Next dan seterusnya sampai tombol Install dan Finish. Intinya, seperti menginstal program sebagaimana biasa.</p>
<p>Setelah BOINC terinstall dan dijalankan, pengguna disediakan kotak dialog untuk Add Project. Berikutnya, akan ada daftar proyek-proyek yang bisa diikuti berbekal BOINC ini. Untuk NRftW, pilih saja World Community Grid dari daftar tadi.  Sedangkan pada halaman member di WCG, pengguna dianjurkan memilih setidaknya dua proyek. Selain NRftW, dapat dipilih misalnya, Discovering Dengue Drugs – Together (DDDT).</p>
<p>Setelah BOINC aktif terpasang dan pengguna memilih NRftW di halaman member WCG, komputer akan dikirimi research work unit ‘unit kerja riset.’ Unit-unit inilah yang akan dijalankan oleh komputer, sampai keseluruhan prosesnya selesai. Persentase proses tadi dapat diintip dengan mengklik icon WCG BOINC Client pada taskbar di pojok kanan bawah layar monitor.</p>
<p>Sesuai keterangan, cara kerjanya tidak akan mengganggu performa komputer yang sedang berjalan. Artinya, selama proses tadi, pengguna dapat tetap memakai komputer tanpa harus merasa terganggu. Karena secara praktis, NRftW ini dijalankan memanfaatkan sumberdaya waktu komputasi yang sedang tak terpakai (idle).</p>
<p>Adapun hasil prediksi struktur proteinnya, dapat dilihat pada animasi 3D di screensaver. Sebenarnya tidak masalah walaupun tidak selalu terhubung ke internet, asalkan ada work unit yang sedang dijalankan. Baru ketika kembali terkoneksi, hasil prediksi tadi akan dikirimkan ke server WCG.</p>
<p>WCG sendiri, sejak diluncurkan 16 November 2004, sudah memiliki 380 ribu lebih anggota dari sekitar 200 negara di seluruh dunia. Adapun dari Indonesia, sampai tulisan ini dibuat, sudah tercatat sekitar 232 anggota. Menariknya, pengguna juga dibebaskan untuk membuat tim. Dari Indonesia, baru tercatat sebanyak 8 tim.</p>
<p>Setiap tim dapat beradu tantangan, saling berlomba dengan tim lain. Ukurannya dilihat dari poin yang berhasil dikumpulkan. Poin di sini, maksudnya, angka yang menunjukkan seberapa besar sumbangsih komputasi setiap (komputer) member terhadap proyek di WCG. Selain itu, tersedia juga widget dan banner yang dapat dipasang di blog atau website masing-masing anggota.</p>
<p>Maka dari itu, tak ada ruginya, bagi yang berkesempatan, untuk mulai ikut “berjamaah” dalam proyek ini. Toh untuk berpartisipasi, caranya mudah sekali: cukup daftar, unduh, dan<em> install</em>!</p>
<p>Referensi:1.	Prediksi Struktur Protein &#8211; Computational Biology Research Group Universitas Washington [http://protinfo.compbio.washington.edu/rice/ ]<br />
2.	IBM World Community Grid &#8220;Supercomputer&#8221; to Tackle Rice Crisis [http://www-03.ibm.com/press/us/en/pressrelease/24202.wss ]<br />
3.	http://tinyurl.com/nurice Halaman utama proyek Nutritious Rice for the World [url lengkap: http://www.worldcommunitygrid.org/projects_showcase/rice/viewRiceMain.do ]<br />
4.	About the Project [http://www.worldcommunitygrid.org/projects_showcase/rice/viewRiceAbout.do ]<br />
5.	http://tinyurl.com/faqrice Halaman bantuan (FAQ) proyek Nutritious Rice for the World [url lengkap: http://www.worldcommunitygrid.org/help/viewTopic.do?shortName=rice ]<br />
6.	http://tinyurl.com/prorice Sits resmi prediksi protein &#8211; Computational Biology Research Group University of Washington [url lengkap: http://protinfo.compbio.washington.edu/rice/ ]<br />
7.	http://tinyurl.com/forice Forum online seputar proyek NRftW [url lengkap: http://www.worldcommunitygrid.org/forums/wcg/listthreads?forum=321 ]<br />
8.	INDONESIA Member Statistics [http://www.worldcommunitygrid.org/stat/viewCountryStats.do?org.apache.struts.taglib.html.TOKEN=938270a9abb581a1be998676f88ded35&amp;countryCode=ID ]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ngirim.wordpress.com/99/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ngirim.wordpress.com/99/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngirim.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngirim.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngirim.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngirim.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngirim.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngirim.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngirim.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngirim.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngirim.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngirim.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngirim.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngirim.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngirim.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngirim.wordpress.com/99/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngirim.wordpress.com&amp;blog=6077192&amp;post=99&amp;subd=ngirim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngirim.wordpress.com/2008/09/18/komputasi-berjamaah-untuk-beras-melimpah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1bac6a37e7e3ffd957942f64f5bb38a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zakif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Melek Iklan di Internet</title>
		<link>http://ngirim.wordpress.com/2008/09/03/melek-iklan-di-internet/</link>
		<comments>http://ngirim.wordpress.com/2008/09/03/melek-iklan-di-internet/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Sep 2008 15:59:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[iklan]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngirim.wordpress.com/?p=177</guid>
		<description><![CDATA[Konsumen adalah raja. Jutaan pemakai internet di Indonesia juga mestinya sama, merekalah para raja. Menurut kisaran APJII (Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia), angka jutaan itu berkepala 25 (hingga akhir 2007)[1]. Jumlah yang cukup menggiurkan. Kue iklan, begitulah orang bilang. Lantas, adakah justru konsumen berpeluang dirugikan? Umumnya, iklan dipandang dari balik kacamata &#8220;kejengkelan.&#8221; Saluran televisi dipindah, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngirim.wordpress.com&amp;blog=6077192&amp;post=177&amp;subd=ngirim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Konsumen adalah raja. Jutaan pemakai internet di Indonesia juga mestinya sama, merekalah para raja. Menurut kisaran APJII (Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia), angka jutaan itu berkepala 25 (hingga akhir 2007)[1]. Jumlah yang cukup menggiurkan. Kue iklan, begitulah orang bilang. Lantas, adakah justru konsumen berpeluang dirugikan?</p>
<p>Umumnya, iklan dipandang dari balik kacamata &#8220;kejengkelan.&#8221; Saluran televisi dipindah, salah satunya, gara-gara sedang iklan. Kecuali lowongan pekerjaan, yang sering tak dilirik dari seeksemplar koran ialah iklan. Giliran ada media gratisan, di dalamnya kemungkinan besar banyak iklan. Lugasnya, iklan itu mengganggu pemandangan.<span id="more-177"></span></p>
<p>Apalagi di internet. Dunia maya, dunia kapasitas yang sanggup menampung lebih banyak kemungkinan. Termasuk juga kreativitas, dalam beriklan. Karena internet kian tak terhindarkan, maka kesadaran konsumen akan iklan di internet, juga perlu dipentingkan.</p>
<p>Pada intinya ialah link (tautan, pranala). Setiap link yang ada di halaman web, dapat dicurigai sebagai &#8220;iklan.&#8221; Karena dengan link itulah, pemakai internet disodori &#8220;halaman lain&#8221; dari web yang sedang dibacanya. Tapi bisa juga, iklan itu sekadar informasi yang ditampilkan, tanpa menaut ke halaman lain. Berarti, ya halaman itu sendiri ialah halaman iklan!</p>
<p>Selain itu, pemuatan link kepada suatu situs, akan ikut berpengaruh pada “maju-mundurnya status situs” itu di jagat internet. Semakin banyak di-link, semakin tinggi pula peluang kedapatdilihatan dari situs itu. Apalagi, mesin pencari superpopuler seperti Google, pun menyematkan ranking hasil pencarian dengan hitungan yang melibatkan variabel link tadi.</p>
<p>Idealnya, semua pemakai internet tahu, mana iklan, mana bukan. Mana &#8220;iklan berkualitas,&#8221; dan mana yang cuma &#8220;tipuan.&#8221; Lebih ideal lagi, setiap iklan dilengkapi keterangan, bahwa dirinya itu iklan, pariwara, advertorial, atau semacamnya.</p>
<p>Berikut ini ialah beberapa jenis iklan yang mungkin menyerbu konsumen, para pemakai internet. Pertama, parked domain, ialah nama domain yang sengaja “ditelantarkan.” Alih-alih sarat dengan isi yang relevan, isinya didominasi tautan-tautan. Contohnya ketika salah menulis nama domain, tapi tetap ada halaman web yang dimunculkan. Bagi yang penasaran, mungkin akan terpancing untuk mengklik tautan itu, yang tak lain ialah iklan.</p>
<p>Kedua, link referral, bercirikan ada sisipan tambahan pada URL yang ditautkan. Sisipan itu, tepatnya ialah identitas penciri si penerbit iklan. Seperti konsep downline dalam MLM. Misalnya, untuk “pendaftaran ke” atau “download dari” situs-situs tertentu. Misalnya dari Ziddu.com atau SurveyMonkey.com.</p>
<p>Ketiga, blogvertorial atau paid review, merupakan entri blog pesanan untuk kepentingan sponsor. Link sponsor bisa saja dituliskan/ditautkan menyatu dengan tulisan.</p>
<p>Keempat, halaman transisi. Misal, ketika mengklik link halaman berikutnya dari sebuah situs, yang muncul malah situs lain. Padahal alamat yang tertera di browser, tetap tidak berubah, alias masih situs yang tadi pertama dibuka. Ada tombol Skip This Ad yang bisa lekas-lekas diklik.</p>
<p>Kelima, iklan pop-up. Muncul tiba-tiba ketika suatu situs dibuka. Jelas, menghalangi pandangan mata.</p>
<p>Keenam, iklan kursor. Tampilan iklan muncul mengikuti gerakan kursor. Mungkin terkesan norak, tapi memang nyatanya ada. Malah bisa jadi, ada segmen pemakai internet tertentu yang senang dengan cara ini.</p>
<p>Ketujuh, iklan banner hingga multimedia. Tak hanya berupa gambar diam, tapi dapat juga tampil dalam format animasi, game mungil, dan video.<br />
Kedelapan, deretan iklan link. Biasanya dicirikan dengan judul kecil: Sponsored, Ads by, Iklan oleh, atau Pesan Sponsor. Terdiri dari satu, dua, atau lebih link. Bisa juga dilengkapi dengan atau tanpa paragraf keterangan.</p>
<p>Beberapa jenis iklan dapat diblok agar tidak tampil. Misalnya dengan mematikan fitur Javascript pada browser &#8216;peramban&#8217;.  Dapat juga dengan memasang program mungil pada browser (mis: Adblock) khusus untuk memblok iklan. Pilihan bebas jelas di tangan konsumen, para pemakai internet.</p>
<p>Di sisi lain, penelitian menunjukkan bahwa konsumen melakukan survei di internet sebelum melakukan pembelian. Sebut misalnya, kesimpulan hasil survei Synovate di empat kota besar di Indonesia (Bisnis.com, 14/08/08)[2]. Terungkap bahwa dalam hal penyampaian informasi dan mendukung pengambilan keputusan untuk membeli, ternyata Internet lebih unggul.</p>
<p>Ini tentu kabar gembira bagi para penjual, produsen, dan kawan-kawan. Karena mereka bakal jauh lebih leluasa dalam memberi informasi kepada konsumen. Bahkan, jauh lebih murah. Artinya, dapat dipandang sebagai alternatif jempolan di masa paceklik ekonomi. Bahkan tren dunia, memang mengarah ke sana.</p>
<p>Melek iklan tentunya akan membuat pemakai internet semakin tercerdaskan; tidak mudah &#8220;ditipu&#8221; atau &#8220;dijebak&#8221;; tidak lekas terhipnotis oleh iming-iming mendapat hadiah dengan mengklik banner kelap-kelip enggak karuan. Apalagi jenis &#8220;iklan hitam&#8221; yang memanfaatkan keawaman, seperti iklan lotre, money game hingga tawaran investasi dari orang antah-berantah yang mengaku-aku punya dana besar di rekening bank. Termasuk pula kekritisan terhadap spam, iklan yang “datang tak diundang” ke e-mail atau halaman web pribadi.</p>
<p>Dengan melek iklan juga, pisau kreativitas milik para pengiklan (advertiser), dan penerbit iklan (publisher) diharapkan dapat terasah semakin tajam. Bukan untuk “membunuh” konsumen (melalui tikaman konsumerisme), tapi agar pola dan budaya beriklan (dan belanja) di internet terbentuk semakin baik. Dengan kata lain, semakin populer, ramah pengguna, menghibur, mencerahkan, dan mencerdaskan. Jadinya, di satu sisi, pengiklan semakin diuntungkan, dan di sisi lain, konsumen kian menyadari kredibilitas dan manfaat dari suatu iklan.</p>
<p><em>Referensi</em>:<br />
1.	Statistik APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia). Updated Desember 2007. [http://www.apjii.or.id/dokumentasi/statistik.php?lang=ind ]. Diakses: 28/08/2008.<br />
2.	Elsya Refianti. Iklan di Internet bantu bisnis UMKM. [ http://web.bisnis.com/sektor-riil/telematika/1id74000.html ] via My Business Blogging &#8211; AsiaBlogging [http://mybusinessblogging.com/entrepreneur/2008/08/17/iklan-internet-dan-umkm/]. Diakses 03/09/2008.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ngirim.wordpress.com/177/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ngirim.wordpress.com/177/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngirim.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngirim.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngirim.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngirim.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngirim.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngirim.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngirim.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngirim.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngirim.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngirim.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngirim.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngirim.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngirim.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngirim.wordpress.com/177/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngirim.wordpress.com&amp;blog=6077192&amp;post=177&amp;subd=ngirim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngirim.wordpress.com/2008/09/03/melek-iklan-di-internet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1bac6a37e7e3ffd957942f64f5bb38a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zakif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(Menuju) Masyarakat Bank-Minded; Berbagi Kenal di Berbagai Kanal</title>
		<link>http://ngirim.wordpress.com/2008/09/01/menuju-masyarakat-bank-minded-berbagi-kenal-di-berbagai-kanal/</link>
		<comments>http://ngirim.wordpress.com/2008/09/01/menuju-masyarakat-bank-minded-berbagi-kenal-di-berbagai-kanal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 01:00:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lomba]]></category>
		<category><![CDATA[api]]></category>
		<category><![CDATA[ayo ke bank]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp27/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Awal tahun 2008, Ibu Negara Ani Yudhoyono mencanangkan Tahun Edukasi Masyarakat di Bidang Perbankan dengan tema “Ayo Ke Bank”[1][2]. Rupanya, sekian puluh tahun perbankan eksis, belum cukup mencerahkan masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat masih belum bank-minded. Hal itulah yang sebelumnya ditunjukkan oleh baseline survey tingkat literasi dan pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan dan perbankan tahun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngirim.wordpress.com&amp;blog=6077192&amp;post=101&amp;subd=ngirim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Awal tahun 2008, Ibu Negara Ani Yudhoyono mencanangkan Tahun Edukasi Masyarakat di Bidang Perbankan dengan tema “Ayo Ke Bank”[1][2]. Rupanya, sekian puluh tahun perbankan eksis, belum cukup mencerahkan masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat masih belum bank-minded. Hal itulah yang sebelumnya ditunjukkan oleh baseline survey tingkat literasi dan pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan dan perbankan tahun 2006[3].<span id="more-101"></span></p>
<p><strong>Upaya memasyarakatkan bank</strong><br />
Sebenarnya, edukasi nasabah telah menjadi program prioritas sejak empat tahun silam. Setidaknya, seperti tercantum dalam program Peningkatan Perlindungan dan Pemberdayaan Nasabah, pilar ke-6 dari API (Arsitektur Perbankan Indonesia) yang diluncurkan pada tahun 2004[4]. Adapun cetak birunya sendiri baru disusun di tahun 2007[3]. Di dalamnya tertuang integrasi dan koordinasi program-program edukasi masyarakat di bidang perbankan, secara keseluruhan.</p>
<p>Visinya[3], ingin mewujudkan masyarakat yang memiliki pengetahuan dan informasi yang memadai; percaya diri; memahami fungsi dan peran, serta manfaat dan risiko produk jasa bank; sehingga dapat mengelola keuangan secara bijaksana, untuk peningkatan kualitas hidup.</p>
<p>Tujuan utamanya ada empat[3], yaitu agar masyarakat semakin: (1) meminati bank (bank-minded &amp; awareness); (2) paham mengenai produk dan jasa bank, serta sadar akan hak dan kewajiban nasabah; (3) sadar mengenai aspek kehati-hatian dalam melakukan transaksi keuangan (risk awareness); dan (4) mengenali ketersediaan sarana pengaduan dan mekanisme penyelesaian sengketa dengan bank.</p>
<p>Dalam pola strategi jangka pendek (1-2 tahun) [3], upaya lebih diarahkan untuk penyajian informasi berimbang kepada masyarakat mengenai permasalahan dalam berinteraksi dengan bank. Salah satunya yaitu melalui kerjasama dengan media massa untuk meningkatkan awareness masyarakat terhadap kelembagaan, produk dan jasa perbankan.</p>
<p>Contohnya mungkin dapat disimak dalam berbagai tayangan di televisi. Di layar kaca, wajah perbankan hadir begitu menawan. Rata-rata sama, menawarkan berbagai hadiah yang menggiurkan. Selain tentunya, berpromosi layanan kemudahan. Belakangan, di akhir iklan suatu bank, tak jarang ada logo dan slogan tema Ayo Ke Bank dan Bank Sahabat Konsumen. Karena hanya sekilas, efektivitasnya patut diragukan. Apalagi, tampaknya belum ada acara rutin yang khusus mengulas tema itu.</p>
<p>Tak hanya iklan, ada juga bank yang memformat acara hiburan, kuis, hingga newsvertorial (iklan via tayangan berita). Semuanya, memang tampak ditujukkan untuk menggugah awareness &#8216;kesadaran&#8217; masyarakat, agar lekas bergabung, bersama layanan bank.</p>
<p><strong>Membidik target di internet</strong><br />
Dalam cetak biru, tercantum juga upaya perluasan jangkauan edukasi dengan memanfaatkan teknologi informasi, melalui berbagai delivery channels yang tersedia[3]. Meskipun digolongkan dalam pola strategi jangka panjang (3-5 tahun), tak ada ruginya untuk menyoroti sejak awal. Karena 25 juta pemakai internet (prediksi APJII untuk 2007)[5] bukanlah angka yang terlalu kecil. Lazim diketahui, di dalamnya juga terdapat kelompok pelajar, mahasiswa, dan profesional dalam jumlah signifikan. Ketiga kelompok tadi, tak lain ialah kelompok yang juga disasar oleh program edukasi nasabah.</p>
<p>Tak heran kalau Bank Indonesia sebagai perumus API, menyediakan halaman download &#8216;unduh&#8217;, khusus seputar edukasi perbankan, di website-nya[6]. Di dalamnya termuat sekira 40-an e-book &#8216;buku elektronik&#8217;.</p>
<p>Di antara e-book itu, ada tema menarik seperti Modus Operandi Kejahatan Perbankan dan Cara Menghindarinya. Di dalamnya terulas secara ringkas seputar penipuan lewat telepon, email, penawaran investasi dengan imbalan bunga yang sangat tinggi, penipuan dengan menggunakan kartu kredit di internet, dan pemalsuan nomor telepon call center bank. Layak digarisbawahi misalnya, ialah aturan bahwa bank tidak akan pernah meminta nomor PIN nasabahnya.</p>
<p>Selain itu, ada juga kamus perbankan, pengenalan kartu debit dan ATM, tabungan, e-banking, kredit tanpa jaminan, kepemilikan rumah dengan KPR, hingga Panduan Singkat Penyelesaian Permasalahan Anda dengan Bank.<br />
Di tengah publikasi tentang BSE (Buku Sekolah Elektronik), program edukasi nasabah sebetulnya dapat ikut ambil bagian. Apalagi dalam cetak biru, juga ada rencana pemutakhiran kurikulum mata pelajaran sekolah untuk bab Uang dan Bank. Upaya minimal misalnya, dengan menitipkan link &#8216;tautan&#8217; e-book edukasi perbankan pada website &#8216;laman&#8217; BSE dan mirror-nya.</p>
<p>Dari sisi perbankan syariah, ada Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES) yang mengemban amanat API untuk edukasi nasabah[3]. Melalui situsnya, masyarakat dapat mengetahui banyak hal tentang bank syariah. Lebih dari itu, didukung motivasi intrinsik yang begitu kuat dari pegiat dan peminatnya, promosi dan edukasi bank syariah pun berlangsung sangat gencar hasil inisiatif publik. Selain PKESInteraktif, juga ada situs lainnya seperti TazkiaOnline, SyariahOnline, Eramuslim, dan EkonomiSyariahNet.</p>
<p>Masih dari dunia maya, perkembangan dunia blogging misalnya, patut juga disimak. Tak jarang, blogger membuat suatu entri khusus tentang perbankan. Tepatnya, tentang pengalaman berinteraksi dengan layanan perbankan. Sering memang berupa pengalaman buruk. Jadinya, seperti surat pembaca yang mengeluhkan mutu layanan.</p>
<p>Tapi di sinilah juga terbuka celah bagi bank untuk memberi penjelasan. Sehingga, masalah yang terjadi dapat cepat terselesaikan. Bahkan biasanya, blogger tersebut tak sungkan untuk kembali membuat suatu entri khusus, berisi apresiasi positif atas solusi yang diberikan oleh bank. Dengan kata kunci tepat, tulisan blogger semacam itu dapat ditelusuri melalui situs agregasi atau mesin pencari.</p>
<p>Tak hanya sebagai wadah jurnalisme warga, media maya juga kian populer dipakai sebagai gerai bisnis. Praktiknya bisa menumpang kepada layanan blog gratisan, atau mengelola web milik sendiri. Dalam perkembangan seperti ini, adalah menarik untuk mengetahui berapa sebenarnya volume transaksi e-commerce yang sudah terjadi di Indonesia.</p>
<p>Bila memang semakin signifikan, mestinya perbankan juga tergerak untuk mencurahkan perhatian khusus. Bahkan kalau perlu, hingga memandu nasabah pemula untuk melakukan transaksi internasional. Baik itu untuk keperluan pencairan uang via PayPal dan sejenisnya, atau pencairan cek dari luar negeri.</p>
<p><strong>Dari &#8220;tradisi&#8221; ke terobosan teknologi</strong><br />
Bagi masyarakat, khususnya pelajar, bank identik dengan aktivitas menabung. Tapi, menabung di bank bukanlah aktivitas utama. Apalagi, di masa kenaikan harga seperti sekarang, ongkos untuk pergi ke bank tentunya ikut diperhitungkan. Kecuali kalau menabung boleh dilakukan secara kolektif; atau ada ongkos transportasi yang didiskon khusus bagi orang yang mau pergi ke bank. Tapi tentu, kedua usul tadi lebih mungkin bernilai jenaka.</p>
<p>Alternatif lain yang mungkin dapat menjadi solusi ialah dengan memanfaatkan pulsa. Pulsa (dan HP) bagi banyak lapisan masyarakat sekarang, sudah bukan lagi barang mewah. Buktinya, menurut Susenas 2005, dari 100 rumahtangga miskin saja, terdapat 2 rumahtangga yang memiliki telepon rumah juga HP[7]. Bahkan, biaya SMS (dan rokok) sudah pula mengalahkan prioritas untuk biaya pendidikan[8]. Prihatinnya lagi, tak jarang pulsa dihamburkan begitu saja. Padahal, dengan sedikit terobosan teknologi, bukan mustahil pulsa dapat dikonversi menjadi penambah rekening tabungan: menabung via pulsa handphone.</p>
<p>Adapun bagi masyarakat golongan (calon) pengusaha, bank juga identik dengan aktivitas meminjam. Tapi, tak jarang terdengar berita, ada kasus di mana benih/ide usaha kreatif justru sukar dalam pemodalan. Dunia maya, lagi-lagi menyimpan potensi solusi.</p>
<p>Sembari menunggu desa internet dan kota cyber dengan infrastruktur terkait, lembaga keuangan seperti perbankan dapat ikut memperkaya muatan. Lewat kerjasama dengan lembaga berkompeten, bukan mustahil untuk membangun layanan pinjaman usaha secara online. Peminjam disuguhi penjelasan detail, bahkan kalau perlu, templat untuk menyesuaikan dengan prosedur peminjaman. Lalu, peminjam tinggal memasukkan proposal usaha dan persyaratan lainnya. Bilapun belum layak untuk dimodali oleh bank, data-data tadi secara eksklusif dapat dibuka kepada jaringan angel investor yang mungkin tertarik.</p>
<p><strong>Epilog</strong><br />
Selepas 8 bulan diresmikan oleh Ibu Negara, sepatutnya &#8220;gerakan Ayo Ke Bank&#8221; sudah terevaluasi. Setidaknya, diukur dari tiga indikator utama edukasi, yaitu: (1) awareness, (2) perubahan perilaku, dan (3) derajat bank-minded.</p>
<p>Bagaimanapun, upaya edukasi perbankan kepada masyarakat, memang layak untuk ditanggapi secara positif. Tuntutan dan cita-cita untuk beranjak dari negara berkembang menjadi negara maju, semakin menguat. Kebutuhan akan hadirnya masyarakat yang melek perbankan, menjadi tak terelakkan. Menjadi nasabah tidak sekadar tergiur hadiah, tapi memang karena pertimbangan yang matang berdasarkan informasi yang jelas dan memadai. Transaksi ekonomi yang berkeadilan dan berkah pun menjadi wajar saja adanya.</p>
<p>Untuk itu, pengoptimalan berbagai kanal, demi keperluan berbagi materi pengenalan dan pemahaman tentang dunia perbankan, menjadi sangat diperlukan. Tak lain, agar masyarakat yang bank-minded, dapat lekas terwujudkan.</p>
<p><strong>Referensi</strong>:<br />
1.	Suhendra. Masyarakat Indonesia Masih Sedikit yang Melek Bank. DetikFinance, 27 Januari 2008. [http://www.detikfinance.com/read/2008/01/27/113702/884608/5/masyarakat-indonesia-masih-sedikit-yang-melek-bank ]. Diakses: 28/08/2008.<br />
2.	Abror Rizki (foto). Ibu Negara Bermain di Monas. DetikFoto, 27 Januari 2008. [http://foto.detik.com/readfoto/2008/01/27/115525/884610/157/1/ibu-negara-bermain-di-monas ]. Diakses: 28/08/2008.<br />
3.	Kelompok Kerja Edukasi Masyarakat Di Bidang Perbankan. 2007. Cetak Biru Edukasi Masyarakat di Bidang Perbankan. [http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/0906143C-163D-4A02-BC59-C2D6C0E31AE9/903/CetakBiruEdukasiMasyarakatdiBidangKeuangan.pdf ]. Diakses: 15/08/2008.<br />
4.	Tahapan-tahapan Implementasi API. [http://vibiznews.com/1new/knowledge/banking/tahapan_api2.pdf ]. Diakses: 15/8/2008.<br />
5.	Statistik APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia). Updated Desember 2007. [http://www.apjii.or.id/dokumentasi/statistik.php?lang=ind ]. Diakses: 28/08/2008.<br />
6.	Kumpulan e-book edukasi perbankan. [http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Edukasi/Perbankan/ ]. Diakses: 15/08/2008.<br />
7.	PROFIL PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI OLEH MASYARAKAT &#8211; Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2005. [www.bps.go.id/releases/New/14-Aug-2006.htm ] . Diakses: 28/08/2008.<br />
8.	Wahyu Daniel. SMS dan Rokok Kalahkan Biaya Pendidikan. DetikFinance, 21 Agustus 2008. [http://www.detikfinance.com/read/2008/08/21/172958/992327/4/sms-dan-rokok-kalahkan-biaya-pendidikan]. Diakses: 21/08/2008.</p>
<p>Daftar alamat situs:<br />
Bank Indonesia (BI) [ http://www.bi.go.id/ ]	Buku Sekolah Elektronik (BSE): [ http://bse.depdiknas.go.id/ ]	Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES): [ http://www.pkes.org/ ] dan [ http://www.pksinteraktif.com ]	TazkiaOnline: [ http://www.tazkiaonline.com/ ]	SyariahOnline: [http://www.syariahonline.com/ ]	Eramuslim: [ http://eramuslim.com/ustadz/ ]	EkonomiSyariah: [ http://www.ekonomisyariah.net/ ]	WordPress Indonesia: [ http://id.wordpress.com/ ]	Google Blogsearch: [ http://blogsearch.google.com/ ]	Blog-Indonesia.: [ http://blog-indonesia.com/ ]	PayPal: [ http://www.paypal.com/ ]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ngirim.wordpress.com/101/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ngirim.wordpress.com/101/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngirim.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngirim.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngirim.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngirim.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngirim.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngirim.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngirim.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngirim.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngirim.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngirim.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngirim.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngirim.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngirim.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngirim.wordpress.com/101/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngirim.wordpress.com&amp;blog=6077192&amp;post=101&amp;subd=ngirim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngirim.wordpress.com/2008/09/01/menuju-masyarakat-bank-minded-berbagi-kenal-di-berbagai-kanal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1bac6a37e7e3ffd957942f64f5bb38a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zakif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika &#8220;Negara&#8221; Bukanlah Rakyat</title>
		<link>http://ngirim.wordpress.com/2008/05/29/ketika-negara-bukanlah-rakyat/</link>
		<comments>http://ngirim.wordpress.com/2008/05/29/ketika-negara-bukanlah-rakyat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 May 2008 08:09:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[bbm]]></category>
		<category><![CDATA[kebijakan]]></category>
		<category><![CDATA[sinisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp27/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[Jika kini, di suatu sekolah di pelosok nusantara, ada murid yang kebagian jadwal belajar Sejarah bab devide et impera, maka sang guru mungkin akan mudah melihat hubungan kontemporernya. Guru-guru pun bisa jadi lekas mengerti: pada jadwal pelajaran Matematika, jabarkan pembagian 100.000 (rupiah) oleh 30 (hari); pada jam Biologi, uraikan perihal kerja sistem pencernaan; pada jam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngirim.wordpress.com&amp;blog=6077192&amp;post=107&amp;subd=ngirim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika kini, di suatu sekolah di pelosok nusantara, ada murid yang kebagian jadwal belajar Sejarah bab devide et impera, maka sang guru mungkin akan mudah melihat hubungan kontemporernya. Guru-guru pun bisa jadi lekas mengerti: pada jadwal pelajaran Matematika, jabarkan pembagian 100.000 (rupiah) oleh 30 (hari); pada jam Biologi, uraikan perihal kerja sistem pencernaan; pada jam PKn, ajarkan tentang sila ke enam. Sila ke enam? Iya, entah apa, mungkin kira-kira demikian: kelima sila di atas bisa tidak berlaku sewaktu-waktu sesuai kepentingan &#8220;negara&#8221;.<span id="more-107"></span></p>
<p>“Negara” yang mana? “Negara” yang ternyata serta merta tidak selalu berarti rakyat. Ini mungkin tidak teoritis, tapi nyatanya praktis. Kenaikan harga BBM ialah untuk menyelamatkan ekonomi “negara”. Padahal ada rakyat di sana-sini terbukti menderita karenanya. Tidak masalah, toh itu cuma beberapa orang. Mengerikan. Tapi kengerian untuk rakyat yang bodoh dan lapar (mungkin) dianggap tidak masalah. Karena kalau nekad menolak bantuan, samadengan hidup mereka jadi taruhan. Itulah konon pengorbanan.</p>
<p>Lalu bagaimana caranya marah? Bakar, hancur dan jarah membawa berkah? Secara teoritis—entah teori mana, mungkin dari isme yang sudah dilarang itu—bisa jadi iya. Tapi secara praktis, ternyata tidak. Kerusuhan dan huru-hara hanya menyisakan kerusakan. Padahal yang diimpi ialah perbaikan. Terlalu kontradiktif, padahal sang pelakon (baca: mahasiswa) dikagum khalayak karena punya kekuatan penalaran. Termasuk kesiapan untuk tak disusupi oleh provokator di lapangan. Tentu, kita membincang yang sebagian. Dan kita semua membersit sama: tak ingin lagi menambah kengerian. Toh sikap santun tak mengurangi, malah menambah manis, esensi perjuangan.</p>
<p>Namun aparat juga bisa kontradiktif. Ketika tugasnya mengamankan, justru berbalik meresahkan. Beribu alasan tak cukup mempan kalau ada &#8220;darah tertumpah&#8221; ke jalan atau &#8220;si tak bersalah&#8221; ditahan. Pasang polwan? Kalau bukan sebentuk pelecehan, tentu tak ada yang melarang. Pastikan pula aparat tak melulu ditelikung curiga berlebihan. Kalau perlu, tebar senyuman, dan tulus memanggil demonstran sebagai: rekan, kawan, teman!</p>
<p>Ketika negara bukanlah rakyat, moga-moga cuma sementara. Dan kita tidak perlu terkejut kalau di kemudian hari justru akan muncul angka-angka prestisius menyusul langkah kebijakan yang mengandung masalah serius. Itu bakal menjadi hal biasa. Kita mungkin hanya bisa berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga itu nanti bukan manipulasi nista. Sehingga kita bisa sujud syukur penuh sukacita. Tapi kalaupun iya, semoga mereka betul-betul memberlakukannya setelah berdoa kepada Tuhan Yang Maha Menggenggam Alam Semesta.</p>
<p>Pastinya, memang ada yang sedang tidak ramah kepada kita, entah sekelompok orang di luar sana (atau malah di dalam sini) atau juga memang problema sistemik ideologi. Tapi yang lebih pasti, jelmaannya sementara hanya bisa dibaca dengan angka-angka (kecuali pejabat atau wakil rakyat yang mestinya punya tafsir lebih peka). Rasanya memang tidak begitu bersalah kalau tidak mengerti angka itu dengan seksama. Tetapi konsekuensinya akan ada &#8220;penunggang bebas&#8221; entah berpakaian preman atau berjas.</p>
<p>Maka baiknya, percayalah pada orang-orang yang benar-benar masing-masing kita mengenal keteladanannya. Dari orang-orang yang demikian, biasanya kita selalu punya alasan untuk tetap memperjuangkan harapan dan saling bertolongan sekalipun dalam keprihatinan, dengan atau tanpa &#8220;negara&#8221;, kan ceritanya untuk sementara, (mungkin hanya) pengisi momen seabad peristiwa.</p>
<p><em>Bangkit itu (jangan) naik. (Jangan) Naik harga karena &#8220;negara&#8221; cerdik. (Jangan) Naik pitam kalau dikritik</em>. Ah, sudahlah, toh kita semata sama-sama sedang berbisik, marah! Kalaupun mau berteriak lebih hentak, lantangkan saja Pancasila dan Pembukaan UUD 1945, di seluruh nusantara, sambil bersantun ria dan berbaris rapi memunggungi pigura kosong (sebanyak) cukuplah dua, lalu akhiri dengan do’a. Bagaimana? Ketika ”negara” bukanlah rakyat, terasa serbasalah menjawabnya. Akhir kata (perlukah kita berkata): Ampun, kami juga ingin sekali menyelamatkan negara Indonesia.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ngirim.wordpress.com/107/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ngirim.wordpress.com/107/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngirim.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngirim.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngirim.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngirim.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngirim.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngirim.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngirim.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngirim.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngirim.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngirim.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngirim.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngirim.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngirim.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngirim.wordpress.com/107/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngirim.wordpress.com&amp;blog=6077192&amp;post=107&amp;subd=ngirim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngirim.wordpress.com/2008/05/29/ketika-negara-bukanlah-rakyat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1bac6a37e7e3ffd957942f64f5bb38a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zakif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kampanye Gaya Baru</title>
		<link>http://ngirim.wordpress.com/2008/05/27/kampanye-gaya-baru/</link>
		<comments>http://ngirim.wordpress.com/2008/05/27/kampanye-gaya-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 May 2008 21:30:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Kampanye]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp27/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[(Mestinya) ada yang berbeda dari kampanye Pemilu 2009 nanti. Bukan apa-apa, mulai Juli 2008, tahapan pemilu sudah masuk jadwal kampanye parpol. Ya, tak kurang selama 8 bulan hingga Februari tahun depan, parpol peserta pemilu akan melangsungkan kampanye dialogis menyampaikan visi, misi dan platform masing-masing. Sebenarnya, sudah sejak lama kita ingin menikmati bentuk kampanye yang lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngirim.wordpress.com&amp;blog=6077192&amp;post=95&amp;subd=ngirim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Mestinya) ada yang berbeda dari kampanye Pemilu 2009 nanti. Bukan apa-apa, mulai Juli 2008, tahapan pemilu sudah masuk jadwal kampanye parpol. Ya, tak kurang selama 8 bulan hingga Februari tahun depan, parpol peserta pemilu akan melangsungkan kampanye dialogis menyampaikan visi, misi dan platform masing-masing.<span id="more-95"></span></p>
<p>Sebenarnya, sudah sejak lama kita ingin menikmati bentuk kampanye yang lebih berkualitas. Lebih dari sekedar pengerahan massa yang hanya diisi hiburan-hiburan sesaat. Bukankah bentuk kampanye demikian cenderung membodohkan masyarakat pemilih, atau setidaknya nihil pendidikan politik. Sebab rakyat tidak diajak menyadari secara sistemik apa dan bagaimana yang bisa mereka dapatkan dari memilih parpol tertentu. Lebih jauh lagi, daya pikir dan rasa rakyat sengaja dibungkam  dengan hiburan melenakan yang lebih bernilai &#8220;pelarian&#8221; dari berbagai masalah hidup keseharian.</p>
<p>Pilkada Jabar yang masih hangat dalam ingatan sepatutnya dapat dijadikan contoh. Lihat saja, bagaimana pasangan yang seolah-olah terlihat sukses mengumpulkan massa dalam jumlah besar sembari mendatangkan artis-artis penghibur, justru eleh ‘kalah’ dalam hasil akhir. Ungkapan <em>It&#8217;s the voters, stupid!</em> tentu perlu dielaborasi lebih jauh.</p>
<p>Bahwa pemilih, sebenarnya, bisa didekati dengan cara yang jauh lebih cerdas, cara yang jauh lebih menghargai nalar dan nurani mereka. Misalnya dengan mendatangi secara langsung kantong-kantong masyarakat, untuk berbagi secara langsung dalam komunikasi dua arah. Belum lagi kualitas debat publik yang dihadirkan oleh masing-masing pasangan. Semakin terlihat siapa sebenarnya pemimpin yang mampu mengartikulasikan ide, visi, dan misi secara matang, well-organized, dan mampu meyakinkan publik.</p>
<p>Tak hanya itu, bias pencitraan politik pun bisa terkikis habis dengan adanya kampanye dialogis. Iklan bisa saja berlantang dalam semu, tapi akan kecil bahkan nihil porsi esensinya kalau dibandingkan tanya jawab dan pendalaman seksama.</p>
<p>Kita bisa mengingat tayangan di salah satu stasiun televisi swasta beberapa waktu lalu. Tersanding di layar kaca, dua pola kampanye di Indonesia dan AS. Di sebelah layar, tampil para jurkam parpol Indonesia termasuk pemimpin tinggi partai yang sedikit cuap-cuap dan malah didominasi hiburan musik, joget dsb. Sedangkan di sebelah layar lagi, tampak Barrack Obama dan Hillary Clinton tengah berorasi dengan cerdasnya di hadapan banyak audiens.</p>
<p>Di Malaysia, negara jiran yang disebut media sedang mengalami transisi demokrasi dengan ”kekalahan” telak Barisan Nasional (BN), pola kampanyenya ternyata masih jauh lebih baik. Seperti dilaporkan Antara (19/03/08) dengan subtajuk &#8220;no dance on stage&#8221;, pengumpulan massa di lapangan, kafe, toko, dan door to door, dilakukan benar-benar untuk penerangan program-program kerja nyata.</p>
<p>Bisa saja kita berapologi bahwa tingkat pendidikan dan ekonomi masyarakat Amerika Serikat dan Malaysia lebih baik daripada Indonesia. Tapi sikap seperti ini tentu kurang memberi semangat perubahan positif dan malah hanya memperlambat perbaikan bangsa. Pastinya, kampanye gaya baru nanti harus dioptimalkan bersama.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ngirim.wordpress.com/95/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ngirim.wordpress.com/95/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngirim.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngirim.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngirim.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngirim.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngirim.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngirim.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngirim.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngirim.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngirim.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngirim.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngirim.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngirim.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngirim.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngirim.wordpress.com/95/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngirim.wordpress.com&amp;blog=6077192&amp;post=95&amp;subd=ngirim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngirim.wordpress.com/2008/05/27/kampanye-gaya-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1bac6a37e7e3ffd957942f64f5bb38a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zakif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nationalism; Unity, Love and Proof</title>
		<link>http://ngirim.wordpress.com/2008/05/20/nationalism-unity-love-and-proof/</link>
		<comments>http://ngirim.wordpress.com/2008/05/20/nationalism-unity-love-and-proof/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 May 2008 19:24:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lomba]]></category>
		<category><![CDATA[indonesian pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[nationalism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp27/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Was Soekarno a nationalist? It is not really a question, because history has writes it down without doubt. Pancasila is the strongest evidence. But how about Soekarno when he was also said that Islamist could be nationalist? This is not a fantasy, but indeed Soekarno’s thought through his writings relatively consistent on appreciate Islamist to [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngirim.wordpress.com&amp;blog=6077192&amp;post=90&amp;subd=ngirim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Was Soekarno a nationalist? It is not really a question, because history has writes it down without doubt. Pancasila is the strongest evidence. But how about Soekarno when he was also said that Islamist could be nationalist? This is not a fantasy, but indeed Soekarno’s thought through his writings relatively consistent on appreciate Islamist to hold the role as nationalist. <span id="more-90"></span></p>
<p>When explaining the idea of unity, Soekarno was indeed addressed Islam, nationalism, and even Marxism warmly and kindly. Not only to Islam, Soekarno has formulates the principle of divinity. Although included as Ataturk secularism admirer (where the current reality can debate it), Soekarno was still consistent with his divinity formulation as re-mentioned in Trisila—the resume of Pancasila. Soekarno is certainly recognized and keep memorized as “crazy for unity” leader. Without Soekarno, we will difficult to imagine the existence of Indonesia. In short, Soekarno nationalism is the unified nationalism. Then, what is really makes Soekarno since his teen (17 yrs old) until a half century of his struggle and dedication tough in consistency?</p>
<p>That is love. Because of Soekarno is nationalist, then that is the nationalism with full of love. It doesn’t present to bless fighting among nation child. It embrace all and allowing all to embrace it. That kind of nationalism presents to be internalized by all nation elements with their own creative ways. From its beginning, it honest in acknowledge that Indonesia is such a fruit from the tree rooted on common spirit to get freedom, without make polemic about the difference of ethnics, languages, and religions. All of advantage and virtue potentials are bowled to growing up. Existing diversity is still framed in main principle that respected and convinced by all together, without attacking each nation-element’s main principle. And if there are any problems, then doesn’t turbid the situation by hateful or injustice accusation.</p>
<p>But why Soekarno was still need to talk about mutual-aid “Gotong-Royong” in Ekasila? Clearly that it is his way to explaining multiple layer of understanding of his concept of Pancasila. And gotong-royong is just reflecting move not quiet, dynamic not static, shoulder to shoulder not disturb each others, together in sacrifice not sacrificing others. Gotong-royong in virtue not sin, in clean government not corruption, in caring society not individualistic. And the most real point is: gotong-royong exceeds words. It could be happen in speech to claim as the most nationalist, but contradict with the reality. Because of Soekarno is nationalist, then that is the nationalism with full of proof.</p>
<p>The next question is: what kind of “heaven” is promised by nationalism? Soekarno in the past perhaps could give answer (or hope) fluently—as follow up of political democracy—related to social-democracy and economy-democracy. But we, now in the era of 100yrs national awakening, 63yrs national independence, and 10yrs reformation, accidentally not so fluent to answer it. It is not only caused by more distance (or maybe betrayal) consciously to Soekarno ideas, but also affected by too many anomaly and paradox on our national journey.</p>
<p>Our nationalism is has been feeling nervous and surrender facing globalization, neo-liberalism and neo-capitalism. There are too much assets lost from our people. While the political elites (as well-known rumor) are busy to divide and greed the people’s money for their funding in election and saving power. Therefore, social-democracy and economy-democracy are just crushed away based on near-empty political democracy.</p>
<p>Then it becomes natural, if we difficult to imagine the “heaven” of nationalism for the moment. But we still can spell Soekarno hopes related to justice (social-democracy) and prosperity (economy-democracy). We can still believe that there is still hope, if our nationalism is still containing three things: unity, love, and proof. If do not so, that is not nationalism, but pseudo-nationalism. And the most ironic thing when we feel nationalistic enough in our condition like now is: we really should propose (as written above) the question “was Soekarno a nationalist?”</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ngirim.wordpress.com/90/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ngirim.wordpress.com/90/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngirim.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngirim.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngirim.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngirim.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngirim.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngirim.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngirim.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngirim.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngirim.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngirim.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngirim.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngirim.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngirim.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngirim.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngirim.wordpress.com&amp;blog=6077192&amp;post=90&amp;subd=ngirim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngirim.wordpress.com/2008/05/20/nationalism-unity-love-and-proof/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1bac6a37e7e3ffd957942f64f5bb38a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zakif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DPR-KPK Dalam Sorotan</title>
		<link>http://ngirim.wordpress.com/2008/05/05/dpr-kpk-dalam-sorotan/</link>
		<comments>http://ngirim.wordpress.com/2008/05/05/dpr-kpk-dalam-sorotan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 May 2008 08:33:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[perundangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp27/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Banyak sudah plesetan yang dilontarkan masyarakat terhadap lembaga tinggi negara yang bernama DPR. Tak kurang, grup musik Slank ikut tergerak untuk mengkritik lembaga beranggotakan 550 orang yang dipilih partai untuk mewakili rakyat. Tapi hal demikian seakan belum mampu menjewer telinga para wakil rakyat itu untuk bersungguh-sungguh menjadikan lembaganya sebagai area zero tolerance terhadap KKN. Apakah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngirim.wordpress.com&amp;blog=6077192&amp;post=146&amp;subd=ngirim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak sudah plesetan yang dilontarkan masyarakat terhadap lembaga tinggi negara yang bernama DPR. Tak kurang, grup musik Slank ikut tergerak untuk mengkritik lembaga beranggotakan 550 orang yang dipilih partai untuk mewakili rakyat. Tapi hal demikian seakan belum mampu menjewer telinga para wakil rakyat itu untuk bersungguh-sungguh menjadikan lembaganya sebagai area zero tolerance terhadap KKN. Apakah DPR ingin dapat tambahan plesetan sebagai Dewan Percontohan Risywah?<span id="more-146"></span></p>
<p>Risywah atau suap termasuk tindak pidana korupsi menurut undang-undang yang berlaku. Dampaknya makin terasa, jika suap-menyuap itu justru terjadi di ranah kebijakan yang nyata dipandang strategis bagi arah maju-mundurnya pembangunan bangsa. Tercemar dari hulu, tercemar pulalah hingga ke hilirnya. Namun dengan sangat menyesal saat ini, sebagai buah keteledoran parpol dalam membuktikan diri sebagai garda terdepan aksi antikorupsi, kita masih dipaksa belajar menyimak bagaimana hal itu bisa terjadi di DPR Republik Indonesia.</p>
<p>Beberapa waktu belakangan, sedikitnya lima anggota (dan &#8220;alumni&#8221;) DPR dari tiga fraksi (dan diperkirakan akan terus bertambah) dijadikan tersangka dugaan korupsi oleh KPK. Dalam posisinya sebagai wakil rakyat, kejadian itu benar-benar sebuah tragedi. Sekian ratus ribu rakyat yang diwakili setiap anggota dewan, jelas-jelas tak pernah mengamanahkan mereka untuk berlaku korup. Lantas bagaimana mereka bisa begitu &#8220;berinisiatif&#8221; mengkhianati amanah rakyat. Itu tak ubahnya seperti setiap aleg koruptor sedang memfitnah bahwa rakyat yang diwakilinya menginginkan korupsi.</p>
<p>Alih-alih kompak mengintrospeksi diri, malah sebagaiannya terkesan balik menyerang KPK dengan segala kewenangan yang dimungkinkan UU. Di titik ini, penguatan peran KPK sebagai organ konstitusi, makin mendapat urgensinya. Seperti diketahui, Mahkamah Konstitusi telah mengamanahkan pembentukan UU Pengadilan Tipikor hingga batas waktu Desember 2009 (Okezone.com, 2/5/08). Sayangnya, seperti lebih lanjut diungkap Denny Indrayana (Pusat Studi Antikorupsi UGM) dalam diskusi &#8220;Bubarkan KPK?&#8221;, DPR dan Pemerintah bersikap diam hinga kini (Detikcom, 2/5/08).</p>
<p>Melihat riwayat (dan potensi) korupsi lembaga dewan, sangat layak kita terheran-heran dan terus bertanya, seberapa sadar dan insyafkah mereka dengan sumpah pelantikan anggota dewan. Agaknya setiap tahun atau bahkan setiap bulan, mereka perlu memperbaharui sumpah mereka, agar tak lekas lupa dikubur godaan dunia. Malah jika perlu, bercerminlah selalu pada nama—yang telah diberikan orangtua—yang pastinya banyak mengandung pesan keutamaan.</p>
<p>Di tengah berbagai himpitan hidup yang seolah makin tak masuk akal, jelas kita butuh wakil rakyat yang cukup merasa kaya dengan hidup sederhana. Sehingga fokus konsentrasinya ialah amanah rakyat dalam menunaikan visi dan platform mulia jauh ke depan. Kita benar-benar ingin, DPR di masa depan ialah Dewan Perwakilan Rakyat, tanpa plesetan negatif lainnya. Sembari memperjernih pandangan, memperjelas harapan dan terus mendukung KPK, ternyata kita masih harus menunggu hingga 2009. Akankah ratusan orang terpilih lewat mekanisme pemilu nanti benar-benar mereka yang komitmen dan memberi teladan dalam aksi antikorupsi? Bukankah untuk itu kita berdemokrasi?</p>
<p><em>Link Referensi</em>:<br />
Upaya Pembubaran KPK Semakin Jelas<br />
Diamkan Draf RUU Pengadilan Tipikor Upaya Bubarkan KPK</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ngirim.wordpress.com/146/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ngirim.wordpress.com/146/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngirim.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngirim.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngirim.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngirim.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngirim.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngirim.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngirim.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngirim.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngirim.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngirim.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngirim.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngirim.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngirim.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngirim.wordpress.com/146/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngirim.wordpress.com&amp;blog=6077192&amp;post=146&amp;subd=ngirim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngirim.wordpress.com/2008/05/05/dpr-kpk-dalam-sorotan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1bac6a37e7e3ffd957942f64f5bb38a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zakif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Waspadai Pseudo-Pancasila</title>
		<link>http://ngirim.wordpress.com/2007/09/28/waspadai-pseudo-pancasila/</link>
		<comments>http://ngirim.wordpress.com/2007/09/28/waspadai-pseudo-pancasila/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Sep 2007 03:57:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[polemik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp27/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Isu asas tunggal Pancasila kembali diungkit dan sempat menimbulkan deadlock dalam pembahasan RUU Parpol di DPR (SINDO, 27/09/07). Kenangan buruk akan pembonsaian terma hingga makna Pancasila yang baru saja &#8220;beres&#8221; hampir sepuluh tahun sejak keruntuhan Orde Baru, sepertinya mulai dianggap angin lalu. Apakah ini pertanda &#8220;kesurupan&#8221; Orde Baru semakin merasuki segelintir elemen bangsa ini? Semoga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngirim.wordpress.com&amp;blog=6077192&amp;post=144&amp;subd=ngirim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Isu asas tunggal Pancasila kembali diungkit dan sempat menimbulkan <em>deadlock</em> dalam pembahasan RUU Parpol di DPR (SINDO, 27/09/07). Kenangan buruk akan pembonsaian terma hingga makna Pancasila yang baru saja &#8220;beres&#8221; hampir sepuluh tahun sejak keruntuhan Orde Baru, sepertinya mulai dianggap angin lalu. Apakah ini pertanda &#8220;kesurupan&#8221; Orde Baru semakin merasuki segelintir elemen bangsa ini?<span id="more-144"></span></p>
<p>Semoga saja tidak.</p>
<p>Meski tak dapat dielakkan, pemunculan isu tersebut di masa transisi dan pembelajaran seperti sekarang ini, seolah hanya menunjukkan sikap kekanak-kanakan berdemokrasi. Sementara rakyat bergelut dengan realitas keseharian yang memusingkan kepala, sebagian elit malah bermulut manis mengkhayalkan tentang Pancasila versi mereka.</p>
<p>Mari sejenak kita hayati kembali sila demi sila: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Kelimanya telah tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 sejak 62 tahun lalu. Yang layak diherankan, rentang cakrawala dinamika sejarah bangsa selama 62 tahun itu seolah tak hadir di benak kebanyakan elit politik kita. Kalau terus menerus dibiarkan, kerja keras bersama sebagai bangsa akan selalu kembali ke titik nadir, tanpa ada kemajuan yang memuaskan.</p>
<p>Sekedar uji sederhana, kalau memang berani, coba sajalah kita tantang parpol untuk melakukan pensejajaran antara Pancasila dengan kiprah mereka di arena politik, khususnya tatkala kekuasaan dititipkan kepada mereka. Tak ragu lagi, kita akhirnya terpaksa prihatin: jauh panggang dari api! Belum lagi kalau ditakar sejauhmana bukti nyata kepekaan mereka akan problematika rakyat. Inilah pseudo-Pancasila yang terasa jauh lebih bopeng daripada symbolic-Pancasila dan mestinya diwaspadai untuk disembuhkan segera.</p>
<p>Kita berharap isu ini tidak berlanjut menjadi episentrum gempa politik baru. Kecuali jika memang elit di Senayan masih bernafsu besar untuk kembali mempertempurkan antar elemen bangsa dalam kotak konflik yang mereka persiapkan demi kepentingan golongan semata.</p>
<p>Bagaimanapun, rakyat sudah dan akan terus mengeja Pancasila dengan nurani mereka sendiri. Sedangkan untuk perdebatan—apalagi pemaksaan—yang sia-sia: maaf saja! Bukankah lebih baik—mengadapsi Ekasila-nya Bung Karno—kita bergotong-royong membangun Indonesia.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ngirim.wordpress.com/144/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ngirim.wordpress.com/144/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngirim.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngirim.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngirim.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngirim.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngirim.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngirim.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngirim.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngirim.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngirim.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngirim.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngirim.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngirim.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngirim.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngirim.wordpress.com/144/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngirim.wordpress.com&amp;blog=6077192&amp;post=144&amp;subd=ngirim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngirim.wordpress.com/2007/09/28/waspadai-pseudo-pancasila/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1bac6a37e7e3ffd957942f64f5bb38a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zakif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Capres &#8220;Fresh&#8221; 2009</title>
		<link>http://ngirim.wordpress.com/2007/09/15/capres-fresh-2009/</link>
		<comments>http://ngirim.wordpress.com/2007/09/15/capres-fresh-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Sep 2007 10:06:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[capres]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp27/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya aroma hajatan demokrasi 2009 makin tercium. Apalagi kalau bukan karena pencalonan Megawati untuk Pilpres 2009 (SINDO, 11/09). Meski parpol lain juga mulai bergumam tentang siapa kira-kira yang bakal diusung sebagai capresnya nanti, PDIP mencatatkan diri sebagai yang pertama nekad melempar nama capres resminya ke ruang bincang publik. Lepas dari meluas tidaknya anggapan &#8220;PDIP is [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngirim.wordpress.com&amp;blog=6077192&amp;post=142&amp;subd=ngirim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya aroma hajatan demokrasi 2009 makin tercium. Apalagi kalau bukan karena pencalonan Megawati untuk Pilpres 2009 (SINDO, 11/09). Meski parpol lain juga mulai bergumam tentang siapa kira-kira yang bakal diusung sebagai capresnya nanti, PDIP mencatatkan diri sebagai yang pertama nekad melempar nama capres resminya ke ruang bincang publik.<span id="more-142"></span></p>
<p>Lepas dari meluas tidaknya anggapan &#8220;PDIP is Megawati &#8211; Megawati is PDIP&#8221;, kemunculan kembali kaum tua apalagi stok lama—siapapun dan dari manapun ia akan dicalonkan—layak untuk ditanggapi secara adil.</p>
<p>Kita jadi merenung ulang, apakah ini situasi visioner yang diperjuangkan para elit politik tatkala ikut masuk ke gerbong reformasi hampir sepuluh tahun silam. Figuritas makin akut. Politik dinasti mulai menggejala. Kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan pun masih juga diulur masa panennya—atau malah tak diseriusi proses tanamnya! Apalagi jika menyoal takaran kinerja pembahasan dan penyelesaian masalah riil yang dihadapi rakyat. Seolah politik makin basi, karena dilewati secara klise tanpa sinyal perubahan dan gerakan yang benar-benar berarti bagi hadirnya perbaikan.</p>
<p>Bisa jadi, inilah buah dari pohon sejarah kita yang pernah ditumbuhi rezim penguasa terlalu lama hingga membusuk. Khususnya semasa Orba, di mana energi potensial kepemimpinan yang dimiliki anak bangsa menggantung terlalu lama. Akibatnya, tatkala reformasi memungkinkan energi potensial itu bertransformasi, bandul-bandul berayun kencang kesana kemari. Sebagiannya bahkan seringkali saling beradu. Apa daya, kini dan lebih-lebih 2009 nanti, pemimpin muda potensial masa Orba itu ternyata terlanjur tua.</p>
<p>Tentu tak ada yang salah dengan menjadi tua, hanya sang bijak berkata: setiap masa ada pemimpin dan tokohnya. Karena itu, aspirasi akan hadirnya kaum muda di panggung kepemimpinan nasional wajar saja adanya. Bagi yang mau membuka pikiran, tentu saja ini bukan semata soal usia, tapi juga kualitas dan karakter kepemimpinan, kedekatan di hati rakyat serta sediaan intelektual-spiritual-fisikal dalam melentingkan Indonesia ini jauh ke depan.</p>
<p>Tidak cukup rendah hatikah kita untuk sekedar terinspirasi dari Iran dengan Ahmadinejad (50), Venezuela dengan Hugo Chavez (53), atau Turki dengan Abdullah Gul (56)? Bila tak kepala tiga atau empat, kepala lima pun sudah kemajuan berharga. Kecuali kita masih rela mencocok hidung rakyat dengan sumbat popularitas-figuritas nihil edukasi politik yang berkualitas, kerdilkan saja apresiasi terhadap capres &#8220;fresh&#8221; dari kaum muda.</p>
<p>Kalaupun ke depan aroma 2009 makin menyengat, semoga bukanlah aroma pesimisme dan kegamangan sebuah bangsa yang dituntut bergerak aktif lagi energik demi mencapai keunggulan bangunan peradabannya. Dalam dinamika demokrasi, mestinya itu semua dapat terwujud tanpa harus membuat kaum sepuh malah ge-er dan merasa dijadikan musuh. Capres &#8220;fresh&#8221; 2009? Bersama kita rindukan!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ngirim.wordpress.com/142/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ngirim.wordpress.com/142/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngirim.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngirim.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngirim.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngirim.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngirim.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngirim.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngirim.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngirim.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngirim.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngirim.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngirim.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngirim.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngirim.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngirim.wordpress.com/142/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngirim.wordpress.com&amp;blog=6077192&amp;post=142&amp;subd=ngirim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngirim.wordpress.com/2007/09/15/capres-fresh-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1bac6a37e7e3ffd957942f64f5bb38a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zakif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebutir Mutiara dari Demokrasi Turki</title>
		<link>http://ngirim.wordpress.com/2007/08/31/sebutir-mutiara-dari-demokrasi-turki/</link>
		<comments>http://ngirim.wordpress.com/2007/08/31/sebutir-mutiara-dari-demokrasi-turki/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Aug 2007 01:56:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[akp]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[gul]]></category>
		<category><![CDATA[turki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wp27/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Abdullah Gül terpilih secara demokratis dan resmi dilantik jadi Presiden ke-11 Turki (SINDO, 29/08). Pemilihan tiga putaran itu diiringi boikot CHP dan gertakan militer yang sejak lama berkoar tentang bahaya Abdullah Gül bagi sekulerisme Turki. Meski demikian, pemilihan yang menghadirkan tiga capres itu, berakhir sukses dengan kemenangan calon dari AKP. Tak tanggung-tanggung, Presiden Amerika G. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngirim.wordpress.com&amp;blog=6077192&amp;post=140&amp;subd=ngirim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abdullah Gül terpilih secara demokratis dan resmi dilantik jadi Presiden ke-11 Turki (SINDO, 29/08). Pemilihan tiga putaran itu diiringi boikot CHP dan gertakan militer yang sejak lama berkoar tentang bahaya Abdullah Gül bagi sekulerisme Turki. Meski demikian, pemilihan yang menghadirkan tiga capres itu, berakhir sukses dengan kemenangan calon dari AKP.<span id="more-140"></span></p>
<p>Tak tanggung-tanggung, Presiden Amerika G. Walker Bush memberi ucapan selamat per telepon (IHT, 28/08). European Commission President, Jose Manuel Barroso juga menyambut baik dan menilai terpilihnya Gül sebagai sebuah langkah positif bagi keinginan Ankara menjadi bagian dari UE (AFP, 28/08).</p>
<p>Begitu pula dengan Romano Prodi, PM Italia. Tak hanya haturan selamat, Prodi bahkan memprediksi Gül bakal jadi pemimpin besar &#8216;great leader&#8217; (Newstime7, 29/08). Prediksi tak berlebihan jika menelaah rangkai pemikiran mutakhir Gül dalam situs resminya (www.abdullahgul.gen.tr).</p>
<p>Menghiasi berita kemenangan calon dari the rulling party itu, Reuters menampilkan sosok Gül sedang menerima jabat tangan selamat dari seorang wanita anggota parlemen. Di Wikipedia, ada juga foto lama yang menunjukkan Menlu AS Condoleeza Rice tengah berjabat tangan dengan Gül, sang Menlu Turki kala itu. Yang jelas, lebih banyak lagi media massa online menampilkan Hayrunnisa, istri Gül, dalam busana berkerudung sesuai kesehariannya.</p>
<p>Tak heran, karena memang sosok Hayrunnisa inilah yang membuat kaum sekuler Turki mendidih. Bagaimana tidak, di negeri di mana sekulerisme nyaris (atau sudah?)  menjadi tuhan, mengenakan kerudung di lembaga pendidikan dan instansi pemerintahan, sangat dilarang keras. Tapi vox populi, suara rakyat Turki meneriakkan lain. Seperti dilansir oleh kantor berita independen, tak kurang dari 72% rakyat Turki berpendapat: normal saja bila ada Ibu Negara mengenakan kerudung (SINDO, 29/08).</p>
<p>Kemenangan Gül, bagaimanapun, diprediksi akan terus dihujani sorotan curiga lagi antipati dari kelompok kontra. Padahal kalau jujur menilai, rezim sekuler yang sarat korupsi justru dipandang gagal memberikan perbaikan ekonomi, apalagi pemerintahan yang transparan dan bersih.</p>
<p>Sementara partai pengusung Gül, AKP, yang kembali meningkatkan perolehan suara hingga tak kurang dari 47 % pada Pemilu terakhir, terbukti menyuguhkan hidangan istimewa bagi Turki. Lihat saja dari turunnya angka inflasi secara drastis, meningkatpesatnya investasi, dan yang terpenting, terbangunnya clean government dan good governance. Sebuah Turki baru yang pulih dari gering dan lebih oke serta lebih adil dalam menjalin hubungan baik itu dengan Barat (Eropa &amp; AS) maupun dunia Islam.</p>
<p>Wajar saja jika kemudian nyaris satu dari dua orang rakyat Turki mempercayakan kepemimpinan mereka kepada AKP. Lebih wajar lagi ketika Gül dengan penghayatannya akan esensi demokrasi sempat bertutur menjelang pemilihan: &#8220;Keputusan saya sudah cukup jelas. Dan saya tidak akan salah menafsirkan isyarat-isyarat  yang dinyatakan rakyat pada saat Pemilu lalu&#8221; (DW, 14/08).</p>
<p>Sembari membersihkan cermin kebangsaan kita, mutiara berharga yang mungkin dapat diambil untuk Indonesia ialah: jeralah segera kalau politik diobral sekedar jargon, kemasan, dan polesan ideologi semata, sementara bukti nyata dan track record gemilang tak kunjung disuguhkan ke hadapan rakyat.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ngirim.wordpress.com/140/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ngirim.wordpress.com/140/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngirim.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngirim.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngirim.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngirim.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngirim.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngirim.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngirim.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngirim.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngirim.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngirim.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngirim.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngirim.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngirim.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngirim.wordpress.com/140/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngirim.wordpress.com&amp;blog=6077192&amp;post=140&amp;subd=ngirim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngirim.wordpress.com/2007/08/31/sebutir-mutiara-dari-demokrasi-turki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1bac6a37e7e3ffd957942f64f5bb38a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zakif</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
