(Menuju) Masyarakat Bank-Minded; Berbagi Kenal di Berbagai Kanal
Awal tahun 2008, Ibu Negara Ani Yudhoyono mencanangkan Tahun Edukasi Masyarakat di Bidang Perbankan dengan tema “Ayo Ke Bank”[1][2]. Rupanya, sekian puluh tahun perbankan eksis, belum cukup mencerahkan masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat masih belum bank-minded. Hal itulah yang sebelumnya ditunjukkan oleh baseline survey tingkat literasi dan pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan dan perbankan tahun 2006[3].
Upaya memasyarakatkan bank
Sebenarnya, edukasi nasabah telah menjadi program prioritas sejak empat tahun silam. Setidaknya, seperti tercantum dalam program Peningkatan Perlindungan dan Pemberdayaan Nasabah, pilar ke-6 dari API (Arsitektur Perbankan Indonesia) yang diluncurkan pada tahun 2004[4]. Adapun cetak birunya sendiri baru disusun di tahun 2007[3]. Di dalamnya tertuang integrasi dan koordinasi program-program edukasi masyarakat di bidang perbankan, secara keseluruhan.
Visinya[3], ingin mewujudkan masyarakat yang memiliki pengetahuan dan informasi yang memadai; percaya diri; memahami fungsi dan peran, serta manfaat dan risiko produk jasa bank; sehingga dapat mengelola keuangan secara bijaksana, untuk peningkatan kualitas hidup.
Tujuan utamanya ada empat[3], yaitu agar masyarakat semakin: (1) meminati bank (bank-minded & awareness); (2) paham mengenai produk dan jasa bank, serta sadar akan hak dan kewajiban nasabah; (3) sadar mengenai aspek kehati-hatian dalam melakukan transaksi keuangan (risk awareness); dan (4) mengenali ketersediaan sarana pengaduan dan mekanisme penyelesaian sengketa dengan bank.
Dalam pola strategi jangka pendek (1-2 tahun) [3], upaya lebih diarahkan untuk penyajian informasi berimbang kepada masyarakat mengenai permasalahan dalam berinteraksi dengan bank. Salah satunya yaitu melalui kerjasama dengan media massa untuk meningkatkan awareness masyarakat terhadap kelembagaan, produk dan jasa perbankan.
Contohnya mungkin dapat disimak dalam berbagai tayangan di televisi. Di layar kaca, wajah perbankan hadir begitu menawan. Rata-rata sama, menawarkan berbagai hadiah yang menggiurkan. Selain tentunya, berpromosi layanan kemudahan. Belakangan, di akhir iklan suatu bank, tak jarang ada logo dan slogan tema Ayo Ke Bank dan Bank Sahabat Konsumen. Karena hanya sekilas, efektivitasnya patut diragukan. Apalagi, tampaknya belum ada acara rutin yang khusus mengulas tema itu.
Tak hanya iklan, ada juga bank yang memformat acara hiburan, kuis, hingga newsvertorial (iklan via tayangan berita). Semuanya, memang tampak ditujukkan untuk menggugah awareness ‘kesadaran’ masyarakat, agar lekas bergabung, bersama layanan bank.
Membidik target di internet
Dalam cetak biru, tercantum juga upaya perluasan jangkauan edukasi dengan memanfaatkan teknologi informasi, melalui berbagai delivery channels yang tersedia[3]. Meskipun digolongkan dalam pola strategi jangka panjang (3-5 tahun), tak ada ruginya untuk menyoroti sejak awal. Karena 25 juta pemakai internet (prediksi APJII untuk 2007)[5] bukanlah angka yang terlalu kecil. Lazim diketahui, di dalamnya juga terdapat kelompok pelajar, mahasiswa, dan profesional dalam jumlah signifikan. Ketiga kelompok tadi, tak lain ialah kelompok yang juga disasar oleh program edukasi nasabah.
Tak heran kalau Bank Indonesia sebagai perumus API, menyediakan halaman download ‘unduh’, khusus seputar edukasi perbankan, di website-nya[6]. Di dalamnya termuat sekira 40-an e-book ‘buku elektronik’.
Di antara e-book itu, ada tema menarik seperti Modus Operandi Kejahatan Perbankan dan Cara Menghindarinya. Di dalamnya terulas secara ringkas seputar penipuan lewat telepon, email, penawaran investasi dengan imbalan bunga yang sangat tinggi, penipuan dengan menggunakan kartu kredit di internet, dan pemalsuan nomor telepon call center bank. Layak digarisbawahi misalnya, ialah aturan bahwa bank tidak akan pernah meminta nomor PIN nasabahnya.
Selain itu, ada juga kamus perbankan, pengenalan kartu debit dan ATM, tabungan, e-banking, kredit tanpa jaminan, kepemilikan rumah dengan KPR, hingga Panduan Singkat Penyelesaian Permasalahan Anda dengan Bank.
Di tengah publikasi tentang BSE (Buku Sekolah Elektronik), program edukasi nasabah sebetulnya dapat ikut ambil bagian. Apalagi dalam cetak biru, juga ada rencana pemutakhiran kurikulum mata pelajaran sekolah untuk bab Uang dan Bank. Upaya minimal misalnya, dengan menitipkan link ‘tautan’ e-book edukasi perbankan pada website ‘laman’ BSE dan mirror-nya.
Dari sisi perbankan syariah, ada Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES) yang mengemban amanat API untuk edukasi nasabah[3]. Melalui situsnya, masyarakat dapat mengetahui banyak hal tentang bank syariah. Lebih dari itu, didukung motivasi intrinsik yang begitu kuat dari pegiat dan peminatnya, promosi dan edukasi bank syariah pun berlangsung sangat gencar hasil inisiatif publik. Selain PKESInteraktif, juga ada situs lainnya seperti TazkiaOnline, SyariahOnline, Eramuslim, dan EkonomiSyariahNet.
Masih dari dunia maya, perkembangan dunia blogging misalnya, patut juga disimak. Tak jarang, blogger membuat suatu entri khusus tentang perbankan. Tepatnya, tentang pengalaman berinteraksi dengan layanan perbankan. Sering memang berupa pengalaman buruk. Jadinya, seperti surat pembaca yang mengeluhkan mutu layanan.
Tapi di sinilah juga terbuka celah bagi bank untuk memberi penjelasan. Sehingga, masalah yang terjadi dapat cepat terselesaikan. Bahkan biasanya, blogger tersebut tak sungkan untuk kembali membuat suatu entri khusus, berisi apresiasi positif atas solusi yang diberikan oleh bank. Dengan kata kunci tepat, tulisan blogger semacam itu dapat ditelusuri melalui situs agregasi atau mesin pencari.
Tak hanya sebagai wadah jurnalisme warga, media maya juga kian populer dipakai sebagai gerai bisnis. Praktiknya bisa menumpang kepada layanan blog gratisan, atau mengelola web milik sendiri. Dalam perkembangan seperti ini, adalah menarik untuk mengetahui berapa sebenarnya volume transaksi e-commerce yang sudah terjadi di Indonesia.
Bila memang semakin signifikan, mestinya perbankan juga tergerak untuk mencurahkan perhatian khusus. Bahkan kalau perlu, hingga memandu nasabah pemula untuk melakukan transaksi internasional. Baik itu untuk keperluan pencairan uang via PayPal dan sejenisnya, atau pencairan cek dari luar negeri.
Dari “tradisi” ke terobosan teknologi
Bagi masyarakat, khususnya pelajar, bank identik dengan aktivitas menabung. Tapi, menabung di bank bukanlah aktivitas utama. Apalagi, di masa kenaikan harga seperti sekarang, ongkos untuk pergi ke bank tentunya ikut diperhitungkan. Kecuali kalau menabung boleh dilakukan secara kolektif; atau ada ongkos transportasi yang didiskon khusus bagi orang yang mau pergi ke bank. Tapi tentu, kedua usul tadi lebih mungkin bernilai jenaka.
Alternatif lain yang mungkin dapat menjadi solusi ialah dengan memanfaatkan pulsa. Pulsa (dan HP) bagi banyak lapisan masyarakat sekarang, sudah bukan lagi barang mewah. Buktinya, menurut Susenas 2005, dari 100 rumahtangga miskin saja, terdapat 2 rumahtangga yang memiliki telepon rumah juga HP[7]. Bahkan, biaya SMS (dan rokok) sudah pula mengalahkan prioritas untuk biaya pendidikan[8]. Prihatinnya lagi, tak jarang pulsa dihamburkan begitu saja. Padahal, dengan sedikit terobosan teknologi, bukan mustahil pulsa dapat dikonversi menjadi penambah rekening tabungan: menabung via pulsa handphone.
Adapun bagi masyarakat golongan (calon) pengusaha, bank juga identik dengan aktivitas meminjam. Tapi, tak jarang terdengar berita, ada kasus di mana benih/ide usaha kreatif justru sukar dalam pemodalan. Dunia maya, lagi-lagi menyimpan potensi solusi.
Sembari menunggu desa internet dan kota cyber dengan infrastruktur terkait, lembaga keuangan seperti perbankan dapat ikut memperkaya muatan. Lewat kerjasama dengan lembaga berkompeten, bukan mustahil untuk membangun layanan pinjaman usaha secara online. Peminjam disuguhi penjelasan detail, bahkan kalau perlu, templat untuk menyesuaikan dengan prosedur peminjaman. Lalu, peminjam tinggal memasukkan proposal usaha dan persyaratan lainnya. Bilapun belum layak untuk dimodali oleh bank, data-data tadi secara eksklusif dapat dibuka kepada jaringan angel investor yang mungkin tertarik.
Epilog
Selepas 8 bulan diresmikan oleh Ibu Negara, sepatutnya “gerakan Ayo Ke Bank” sudah terevaluasi. Setidaknya, diukur dari tiga indikator utama edukasi, yaitu: (1) awareness, (2) perubahan perilaku, dan (3) derajat bank-minded.
Bagaimanapun, upaya edukasi perbankan kepada masyarakat, memang layak untuk ditanggapi secara positif. Tuntutan dan cita-cita untuk beranjak dari negara berkembang menjadi negara maju, semakin menguat. Kebutuhan akan hadirnya masyarakat yang melek perbankan, menjadi tak terelakkan. Menjadi nasabah tidak sekadar tergiur hadiah, tapi memang karena pertimbangan yang matang berdasarkan informasi yang jelas dan memadai. Transaksi ekonomi yang berkeadilan dan berkah pun menjadi wajar saja adanya.
Untuk itu, pengoptimalan berbagai kanal, demi keperluan berbagi materi pengenalan dan pemahaman tentang dunia perbankan, menjadi sangat diperlukan. Tak lain, agar masyarakat yang bank-minded, dapat lekas terwujudkan.
Referensi:
1. Suhendra. Masyarakat Indonesia Masih Sedikit yang Melek Bank. DetikFinance, 27 Januari 2008. [http://www.detikfinance.com/read/2008/01/27/113702/884608/5/masyarakat-indonesia-masih-sedikit-yang-melek-bank ]. Diakses: 28/08/2008.
2. Abror Rizki (foto). Ibu Negara Bermain di Monas. DetikFoto, 27 Januari 2008. [http://foto.detik.com/readfoto/2008/01/27/115525/884610/157/1/ibu-negara-bermain-di-monas ]. Diakses: 28/08/2008.
3. Kelompok Kerja Edukasi Masyarakat Di Bidang Perbankan. 2007. Cetak Biru Edukasi Masyarakat di Bidang Perbankan. [http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/0906143C-163D-4A02-BC59-C2D6C0E31AE9/903/CetakBiruEdukasiMasyarakatdiBidangKeuangan.pdf ]. Diakses: 15/08/2008.
4. Tahapan-tahapan Implementasi API. [http://vibiznews.com/1new/knowledge/banking/tahapan_api2.pdf ]. Diakses: 15/8/2008.
5. Statistik APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia). Updated Desember 2007. [http://www.apjii.or.id/dokumentasi/statistik.php?lang=ind ]. Diakses: 28/08/2008.
6. Kumpulan e-book edukasi perbankan. [http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Edukasi/Perbankan/ ]. Diakses: 15/08/2008.
7. PROFIL PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI OLEH MASYARAKAT – Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2005. [www.bps.go.id/releases/New/14-Aug-2006.htm ] . Diakses: 28/08/2008.
8. Wahyu Daniel. SMS dan Rokok Kalahkan Biaya Pendidikan. DetikFinance, 21 Agustus 2008. [http://www.detikfinance.com/read/2008/08/21/172958/992327/4/sms-dan-rokok-kalahkan-biaya-pendidikan]. Diakses: 21/08/2008.
Daftar alamat situs:
Bank Indonesia (BI) [ http://www.bi.go.id/ ] Buku Sekolah Elektronik (BSE): [ http://bse.depdiknas.go.id/ ] Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES): [ http://www.pkes.org/ ] dan [ http://www.pksinteraktif.com ] TazkiaOnline: [ http://www.tazkiaonline.com/ ] SyariahOnline: [http://www.syariahonline.com/ ] Eramuslim: [ http://eramuslim.com/ustadz/ ] EkonomiSyariah: [ http://www.ekonomisyariah.net/ ] WordPress Indonesia: [ http://id.wordpress.com/ ] Google Blogsearch: [ http://blogsearch.google.com/ ] Blog-Indonesia.: [ http://blog-indonesia.com/ ] PayPal: [ http://www.paypal.com/ ]