Ngirim; Dibuang Sayang


Kampanye Gaya Baru

Ditulis dalam Media oleh zakif pada 27 Mei 2008
Tags: ,

(Mestinya) ada yang berbeda dari kampanye Pemilu 2009 nanti. Bukan apa-apa, mulai Juli 2008, tahapan pemilu sudah masuk jadwal kampanye parpol. Ya, tak kurang selama 8 bulan hingga Februari tahun depan, parpol peserta pemilu akan melangsungkan kampanye dialogis menyampaikan visi, misi dan platform masing-masing.

Sebenarnya, sudah sejak lama kita ingin menikmati bentuk kampanye yang lebih berkualitas. Lebih dari sekedar pengerahan massa yang hanya diisi hiburan-hiburan sesaat. Bukankah bentuk kampanye demikian cenderung membodohkan masyarakat pemilih, atau setidaknya nihil pendidikan politik. Sebab rakyat tidak diajak menyadari secara sistemik apa dan bagaimana yang bisa mereka dapatkan dari memilih parpol tertentu. Lebih jauh lagi, daya pikir dan rasa rakyat sengaja dibungkam dengan hiburan melenakan yang lebih bernilai “pelarian” dari berbagai masalah hidup keseharian.

Pilkada Jabar yang masih hangat dalam ingatan sepatutnya dapat dijadikan contoh. Lihat saja, bagaimana pasangan yang seolah-olah terlihat sukses mengumpulkan massa dalam jumlah besar sembari mendatangkan artis-artis penghibur, justru eleh ‘kalah’ dalam hasil akhir. Ungkapan It’s the voters, stupid! tentu perlu dielaborasi lebih jauh.

Bahwa pemilih, sebenarnya, bisa didekati dengan cara yang jauh lebih cerdas, cara yang jauh lebih menghargai nalar dan nurani mereka. Misalnya dengan mendatangi secara langsung kantong-kantong masyarakat, untuk berbagi secara langsung dalam komunikasi dua arah. Belum lagi kualitas debat publik yang dihadirkan oleh masing-masing pasangan. Semakin terlihat siapa sebenarnya pemimpin yang mampu mengartikulasikan ide, visi, dan misi secara matang, well-organized, dan mampu meyakinkan publik.

Tak hanya itu, bias pencitraan politik pun bisa terkikis habis dengan adanya kampanye dialogis. Iklan bisa saja berlantang dalam semu, tapi akan kecil bahkan nihil porsi esensinya kalau dibandingkan tanya jawab dan pendalaman seksama.

Kita bisa mengingat tayangan di salah satu stasiun televisi swasta beberapa waktu lalu. Tersanding di layar kaca, dua pola kampanye di Indonesia dan AS. Di sebelah layar, tampil para jurkam parpol Indonesia termasuk pemimpin tinggi partai yang sedikit cuap-cuap dan malah didominasi hiburan musik, joget dsb. Sedangkan di sebelah layar lagi, tampak Barrack Obama dan Hillary Clinton tengah berorasi dengan cerdasnya di hadapan banyak audiens.

Di Malaysia, negara jiran yang disebut media sedang mengalami transisi demokrasi dengan ”kekalahan” telak Barisan Nasional (BN), pola kampanyenya ternyata masih jauh lebih baik. Seperti dilaporkan Antara (19/03/08) dengan subtajuk “no dance on stage”, pengumpulan massa di lapangan, kafe, toko, dan door to door, dilakukan benar-benar untuk penerangan program-program kerja nyata.

Bisa saja kita berapologi bahwa tingkat pendidikan dan ekonomi masyarakat Amerika Serikat dan Malaysia lebih baik daripada Indonesia. Tapi sikap seperti ini tentu kurang memberi semangat perubahan positif dan malah hanya memperlambat perbaikan bangsa. Pastinya, kampanye gaya baru nanti harus dioptimalkan bersama.

Tinggalkan Balasan