Ngirim; Dibuang Sayang


Sebutir Mutiara dari Demokrasi Turki

Ditulis dalam Media oleh zakif di/pada 31 Agustus 2007
Tags: , , ,

Abdullah Gül terpilih secara demokratis dan resmi dilantik jadi Presiden ke-11 Turki (SINDO, 29/08). Pemilihan tiga putaran itu diiringi boikot CHP dan gertakan militer yang sejak lama berkoar tentang bahaya Abdullah Gül bagi sekulerisme Turki. Meski demikian, pemilihan yang menghadirkan tiga capres itu, berakhir sukses dengan kemenangan calon dari AKP.

Tak tanggung-tanggung, Presiden Amerika G. Walker Bush memberi ucapan selamat per telepon (IHT, 28/08). European Commission President, Jose Manuel Barroso juga menyambut baik dan menilai terpilihnya Gül sebagai sebuah langkah positif bagi keinginan Ankara menjadi bagian dari UE (AFP, 28/08).

Begitu pula dengan Romano Prodi, PM Italia. Tak hanya haturan selamat, Prodi bahkan memprediksi Gül bakal jadi pemimpin besar ‘great leader’ (Newstime7, 29/08). Prediksi tak berlebihan jika menelaah rangkai pemikiran mutakhir Gül dalam situs resminya (www.abdullahgul.gen.tr).

Menghiasi berita kemenangan calon dari the rulling party itu, Reuters menampilkan sosok Gül sedang menerima jabat tangan selamat dari seorang wanita anggota parlemen. Di Wikipedia, ada juga foto lama yang menunjukkan Menlu AS Condoleeza Rice tengah berjabat tangan dengan Gül, sang Menlu Turki kala itu. Yang jelas, lebih banyak lagi media massa online menampilkan Hayrunnisa, istri Gül, dalam busana berkerudung sesuai kesehariannya.

Tak heran, karena memang sosok Hayrunnisa inilah yang membuat kaum sekuler Turki mendidih. Bagaimana tidak, di negeri di mana sekulerisme nyaris (atau sudah?)  menjadi tuhan, mengenakan kerudung di lembaga pendidikan dan instansi pemerintahan, sangat dilarang keras. Tapi vox populi, suara rakyat Turki meneriakkan lain. Seperti dilansir oleh kantor berita independen, tak kurang dari 72% rakyat Turki berpendapat: normal saja bila ada Ibu Negara mengenakan kerudung (SINDO, 29/08).

Kemenangan Gül, bagaimanapun, diprediksi akan terus dihujani sorotan curiga lagi antipati dari kelompok kontra. Padahal kalau jujur menilai, rezim sekuler yang sarat korupsi justru dipandang gagal memberikan perbaikan ekonomi, apalagi pemerintahan yang transparan dan bersih.

Sementara partai pengusung Gül, AKP, yang kembali meningkatkan perolehan suara hingga tak kurang dari 47 % pada Pemilu terakhir, terbukti menyuguhkan hidangan istimewa bagi Turki. Lihat saja dari turunnya angka inflasi secara drastis, meningkatpesatnya investasi, dan yang terpenting, terbangunnya clean government dan good governance. Sebuah Turki baru yang pulih dari gering dan lebih oke serta lebih adil dalam menjalin hubungan baik itu dengan Barat (Eropa & AS) maupun dunia Islam.

Wajar saja jika kemudian nyaris satu dari dua orang rakyat Turki mempercayakan kepemimpinan mereka kepada AKP. Lebih wajar lagi ketika Gül dengan penghayatannya akan esensi demokrasi sempat bertutur menjelang pemilihan: “Keputusan saya sudah cukup jelas. Dan saya tidak akan salah menafsirkan isyarat-isyarat yang dinyatakan rakyat pada saat Pemilu lalu” (DW, 14/08).

Sembari membersihkan cermin kebangsaan kita, mutiara berharga yang mungkin dapat diambil untuk Indonesia ialah: jeralah segera kalau politik diobral sekedar jargon, kemasan, dan polesan ideologi semata, sementara bukti nyata dan track record gemilang tak kunjung disuguhkan ke hadapan rakyat.

Tinggalkan Balasan